<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE rss [<!ENTITY % HTMLlat1 PUBLIC "-//W3C//ENTITIES Latin 1 for XHTML//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml-lat1.ent">]>
<rss version="2.0" xml:base="http://debritto.net">
<channel>
 <title>debritto.net blogs</title>
 <link>http://debritto.net/blog</link>
 <description></description>
 <language>id</language>
<item>
 <title>Aku not alone</title>
 <link>http://debritto.net/isi/aku_not_alone</link>
 <description>&lt;p&gt;Sedih juga rasanya...sendiri di Kalbar....sejak tahun 93, hbs lulus.&lt;br /&gt;
Bangga rasanya menjadi satu2nya anak Kalbar angkatan 90. Tiga tahun dijalani, dgn teman2 JB. Hampir2 jadi VOC. Bikin mural di tembok depan sekolah, eh...sekarang (2011), kulihat di debritto.sch.id, cah cah malah &#039;mural&#039; neng dinding....nek mbien, aku karo cah2 nyoret2 dinding malah diseneni, kon resiki kabeh...hehehehehe.&lt;br /&gt;
Nonton Pak Bambang ke&#039;i pendapat tentang Tayangan Cino Jowo de Britto, oalaaaaahhhh....makin muda aja tuh, Pak Bambang.&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/blog">Blog</category>
 <pubDate>Tue, 03 May 2011 22:58:02 +0700</pubDate>
</item>
<item>
 <title>SMS Bagus</title>
 <link>http://debritto.net/isi/sms_bagus</link>
 <description>&lt;p&gt;Aku menjerit kecil.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kulihat papi yang duduk di depan bersama sopir menengok ke arahku dengan pandangan bertanya, namun tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.  Aku merasakan kepalaku berdenyut, dan pandanganku mulai nanar.  SMS itu kubaca sekali lagi, dan kembali kurasakan sebuah tusukan tajam di ulu hatiku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sesampai di rumah, papi baru berani menanyakan apa yang terjadi.  Aku sebenarnya malas menjawab, tapi karena dia mendesak akhirnya kuceritakan sms yang dikirim Bagus.  Sebenarnya sore itu aku merencanakan ketemu dengan Bagus untuk yang pertama kali, setelah dua rencana pertemuan sebelumnya batal karena acaraku dengan papi yang selalu sibuk dengan teman-temannya, dan aku selalu diminta papi untuk mendampinginya.  Permintaannya selalu tidak dapat kutolak, karena dia satu-satunya yang kumiliki sekarang ini, sejak berpulangnya mami tiga tahun lalu dan kematian suamiku awal tahun ini.  Papi sebagai seorang petinggi sebuah angkatan, selalu sibuk dengan jejaringnya.&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/cerpen">Cerpen</category>
 <pubDate>Sun, 02 Aug 2009 15:41:50 +0700</pubDate>
</item>
<item>
 <title>Membaca Jaman dari Sajak di Sebuah Buku</title>
 <link>http://debritto.net/isi/membaca_jaman_dari_sajak_di_sebuah_buku</link>
 <description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;Sebuah jaman adalah sebuah buku.&lt;/b&gt; Meski belum tentu menarik, ia selalu bersedia untuk dibaca. Tanggal-tanggal yang telah lampau menjelma menjadi nomor-nomor halaman. Apa yang dilakukan pemimpin, mungkin menjadi judul dari tiap-tiap bab. Dan tentang rakyat, terkadang ia menjelma sekedar sebagai catatan kaki. Ia sebuah buku, dengan daftar isi kemerdekaan atau kolonialisasi. Ia sebuah buku, dengan prolog preambule konstitusi, dengan epilog yang tak pernah pasti.&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/blog">Blog</category>
 <pubDate>Tue, 30 Jun 2009 10:33:09 +0700</pubDate>
</item>
<item>
 <title>Sastra Maya, Mana Tanggung Jawabmu?</title>
 <link>http://debritto.net/isi/sastra_maya_mana_tanggung_jawabmu</link>
 <description>&lt;p&gt;Bandung. Di belakang meja dua kali satu, di sebelah ruang tempat Soekarno pernah membacakan pledoi, petang itu saya menyempatkan diri berbincang dengan dua wanita - yang karena sebuah rezim - suami-suami mereka terpaksa harus membayar lunas sebuah konsekuensi: mati! Saat itu gerimis. Suciwati, istri Alm. Munir, dan Yu Pon, istri Alm. Wiji Thukul, mengerti benar bahwa sikap dan sajak memiliki nafas lebih kuat daripada nama yang tersemat.&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/blog">Blog</category>
 <pubDate>Wed, 27 May 2009 22:26:15 +0700</pubDate>
</item>
<item>
 <title>Dan Terpujilah Engkau Wahai Binatang Bertaring</title>
 <link>http://debritto.net/isi/dan_terpujilah_engkau_wahai_binatang_bertaring</link>
 <description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;Dan Terpujilah Engkau Wahai Binatang Bertaring &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan terpujilah engkau wahai binatang bertaring yang memberi batas hanya dengan mengucurkan air kencing. Karena kamu hanya memberi tanda pada wilayah, bukan mendiskreditkan binatang yang lain. Lihatlah, kami manusia, yang lebih suka menandai kaum dengan mencetak kartu-kartu, lalu membuangnya, atau memisahkannya dengan tembok tinggi atas nama keamanan, ketertiban, keadilan, dan keselamatan negara.&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/blog">Blog</category>
 <pubDate>Tue, 26 May 2009 00:46:40 +0700</pubDate>
</item>
<item>
 <title>Jangan Berdoa Minta Kesembuhan Jasmani</title>
 <link>http://debritto.net/isi/jangan_berdoa_minta_kesembuhan_jasmani</link>
 <description>&lt;p&gt;tubuh orang saleh bisa sehat, tapi bisa pula sakit&lt;br /&gt;
tubuh orang jahat bisa sakit, tapi bisa pula sehat&lt;br /&gt;
orang saleh yang sakit-fisik bisa sembuh, tapi juga bisa mati&lt;br /&gt;
orang jahat yang sakit-fisik bisa mati, tapi juga bisa sembuh&lt;br /&gt;
semua orang, saleh ataupun jahat, jasmaninya pasti akan mati&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;artinya: Tuhan tidak campur tangan dalam soal kesehatan fisik,&lt;br /&gt;
moralitas bukanlah variabel penentu bagi kesehatan jasmani&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/blog">Blog</category>
 <pubDate>Fri, 30 Jan 2009 16:13:35 +0700</pubDate>
</item>
<item>
 <title>Jangan Berdoa Untuk Minta Rejeki Ekonomi</title>
 <link>http://debritto.net/isi/jangan_berdoa_untuk_minta_rejeki_ekonomi</link>
 <description>&lt;p&gt;banyak orang saleh yang kaya, tapi banyak pula yang miskin&lt;br /&gt;
banyak orang jahat yang miskin, tapi banyak pula yang kaya&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;artinya : Tuhan tidak campur tangan dalam soal ekonomi,&lt;br /&gt;
moralitas bukanlah variabel penentu bagi kemakmuran&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;implikasinya : jangan berdoa untuk minta rejeki ekonomi&lt;br /&gt;
(percuma, sebab Tuhan akan cuek saja)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;mintalah pada Tuhan :&lt;br /&gt;
kedamaian hati, ketenangan pikir, kesehatan jiwa,&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/blog">Blog</category>
 <pubDate>Mon, 19 Jan 2009 02:08:37 +0700</pubDate>
</item>
<item>
 <title>Kata Mutiara-kah??</title>
 <link>http://debritto.net/isi/kata_mutiara_kah</link>
 <description>&lt;p&gt;Bapa selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anakNya,&lt;br /&gt;
sekali pun Dia memberikan yang buruk,&lt;br /&gt;
itu akan lebih baik daripada memberikan sesuatu yang baik kepada kita..&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/blog">Blog</category>
 <pubDate>Fri, 24 Oct 2008 00:00:41 +0700</pubDate>
</item>
<item>
 <title>Gandhi dan Pendidikan yang Hakiki</title>
 <link>http://debritto.net/isi/gandhi_dan_pendidikan_yang_hakiki</link>
 <description>&lt;p&gt;&lt;em &gt;Sepertinya usia yang sudah 70 tahun tak lagi ia pedulikan. Dari ashram nya di Desa Wardha, ia rela berjalan kaki sejauh 3 mil hanya untuk menjemput Ronald Duncan, seorang mahasiswa muda sekaligus aktivis pemimpin pemogokan buruh di Inggris.  Saat melihat kakek tua itu berjalan kaki menjemputnya, Ronald Duncan tergesa turun dari taksi. Kemudian mereka berjalan berdua sambil berdiskusi bagaikan kawan lama tanpa selisih usia. Perjumpaan hangat antar dua insan tak saling kenal ini terjadi tahun 1939 di India, dan kakek tua itu adalah Mahatma Gandhi.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/blog">Blog</category>
 <pubDate>Tue, 20 May 2008 15:24:05 +0700</pubDate>
</item>
<item>
 <title>Aku, Langit, dan Asu</title>
 <link>http://debritto.net/isi/aku_langit_dan_asu</link>
 <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Aku ingat, suatu ketika duduk di teras rumah. Di luar air mengguyur deras. Aku pepetkan tubuhku menjauh dari angin yang membawa tampu rintik. Walau sebenarnya relungku tak begitu suram, namun langit benar terlihat muram. Belum sekalipun, semenjak aku lahir, langit bersedia menghentikan hujan.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pernah aku minta pada Tuhan,“beri aku terik, walau hanya sebentar.” Tapi sampai saat ini toh belum terkabulkan. Hatiku kadang miris melihat tetangga di komplek sebelah, dimana mereka memiliki langit, juga Tuhan yang lebih baik. Di sana langit memberi waktu pada angin, juga pada musim tuk menyapu hari. Sedikit memberi kesempatan pada cuaca demi menghidupi cirinya sendiri.&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/cerpen">Cerpen</category>
 <pubDate>Fri, 14 Dec 2007 17:43:57 +0700</pubDate>
</item>
<item>
 <title>Sing Gumantung Sing...</title>
 <link>http://debritto.net/isi/sing_gumantung_sing</link>
 <description>&lt;p&gt;Sing gumantung, sing kesimpar, sing kependem.  Untuk bahasa Indonesia, secara bebas dapat diterjemahkan sebagai yang tergantung, yang tergeletak di permukaan, dan terakhir yang terpendam di dalam tanah. Di dalam filosofi Jawa, tiga jenis pala atau umbi itulah yang membagi ranah ilmu kehidupan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sing gumantung adalah sesuatu dalam hidup yang sangat mudah terlihat hanya dalam sekilas mata melihat. Seperti buah sukun atau pepaya yang tumbuh berkembang menggantung di dahan, ada banyak ilmu yang mudah dipelajari, mudah dikuasai, hanya dengan memperhatikan secara seksama sesuatu yang kasat oleh mata. Ini juga sebagai titik terluar yang bisa kita ukur dari pribadi seseorang. Menilai jabatan dari bagaimana seorang pribadi berpakaian misalnya.&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/blog">Blog</category>
 <pubDate>Fri, 14 Dec 2007 17:37:34 +0700</pubDate>
</item>
<item>
 <title>Men&#039;s Lib, Women&#039;s Lib</title>
 <link>http://debritto.net/isi/mens_lib_womens_lib</link>
 <description>&lt;p&gt;Pria memandangi Dara yang baru keluar dari kamar mandi. “Cepatlah mandi, nanti terlambat!” kata Dara. Handuk terlilit menutupi dada hingga lutut. Kepala dimiringkan, kedua tangan mengibas rambut basah dengan sehelai handuk kecil. “Air panas macet, seharusnya kita tukar kamar yang lain kemarin.” &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pria meraih handuk lain dan masuk ke kamar mandi. Tercenung sebentar menatap wajah di cermin. “Belum nampak tua,” pikirnya. Sejenak ia teringat orang-orang sebaya yang mulai terlihat kerut-kerut matanya. Air dingin mengucur deras. Ia tengadah. Air mengucuri seluruh wajah. Jauh lebih segar sekarang.&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/cerpen">Cerpen</category>
 <pubDate>Tue, 28 Aug 2007 12:34:47 +0700</pubDate>
</item>
<item>
 <title>GILA</title>
 <link>http://debritto.net/isi/gila</link>
 <description>&lt;p&gt;Sejak lama aku ingin jadi gila, namun aku tak tahu caranya. Tentu orang tak bisa menjadi gila hanya semata-mata karena ingin menjadi gila. Sebagaimana halnya orang tak bisa menjadi bijak hanya karena ingin menjadi bijak, atau menjadi pintar hanya karena ingin menjadi pintar. Namun orang bisa saja belajar demi menjadi bijak atau pintar, dan sementara aku masih belum tahu bagaimana caranya untuk menjadi gila. Bisa saja orang jadi gila karena mempelajari kesaktian, atau frustrasi mengejar cinta, atau mentok meraih prestasi, namun tak ada cara yang langsung dan pasti supaya jadi gila. Kegilaan bagai anugerah, bagai wahyu --hanya diturunkan kepada orang-orang tertentu saja.&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/cerpen">Cerpen</category>
 <pubDate>Tue, 28 Aug 2007 12:33:04 +0700</pubDate>
</item>
<item>
 <title>Kaya Vs. Miskin</title>
 <link>http://debritto.net/isi/kaya_vs_miskin</link>
 <description>&lt;p&gt;Marbun mengira hidupnya susah semata-mata karena tak punya uang, “Hidup orang miskin harus banyak peras keringat, sering-sering bingung cari hutangan, yang mau dihutangi belum tentu punya uang, yang punya uang belum tentu mau memberi hutang. Kalau belum mengembalikan, mau bertemu pun terasa malu, terpaksa kucing-kucingan. Mau bersedekah tidak bisa. Bayangkan kalau kita kaya, pilihan kita lebih banyak: mau hura-hura, beramal, bercita-cita memajukan masyarakat, itu hal gampang!”&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/cerpen">Cerpen</category>
 <pubDate>Tue, 28 Aug 2007 12:28:06 +0700</pubDate>
</item>
<item>
 <title>7 Area Keseimbangan Hidup - Hari Keenam : KARIR</title>
 <link>http://debritto.net/isi/7_area_keseimbangan_hidup_hari_keenam_karir</link>
 <description>&lt;p&gt;Hari Keenam&lt;br /&gt;
KARIR&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mencari cara untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik di dalam profesi ataupun karir&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terkadang dalam karir atau profesi kita, kita merasa karir kita sudah mentok. Kita merasa bahwa itulah puncak karir kita dan kita boleh berpuas diri karena di situlah batas kemampuan kita. Apakah memang demikian?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Coba bandingkan dengan cerita berikut :&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kutu anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya.&lt;/p&gt;
</description>
 <category domain="http://debritto.net/kategori/blog">Blog</category>
 <pubDate>Sun, 15 Jul 2007 19:13:22 +0700</pubDate>
</item>
</channel>
</rss>

