
Lurs,
Satu-satunya alumnus yang kalau datang ke reuni selalu disambut dengan tepuk tangan panjang, adalah Pak Ignatius Satjaka Wahjasoedibja. Itu tentu karena teman-teman alumni melihat dan menyaksikan betapa tinggi rasa setia kawan beliau kepada yang lebih muda. Selama ini memang yang terindikasi sebagai alumnus tertua adalah beliau. Keaktifan beliau sudah lama sekali, jauh sebelum saya sregep di Paguyuban. Kehadiran beliau selalu tampak oleh yang lain. Selain karena memang yang paling sepuh, tetapi beliau selalu membawa oleh-oleh ayam pelung. Ayam pelung yang sudah jadi kluruknya, lalu dilelang dalam acara, uangnya diserahkan ke Paguyuban untuk dijadikan beasiswa. Jangan heran, dahulu juga sudah ada beasiswa dari Alumni, tetapi memang belum well organized seperti sekarang. Oleh teman-teman lalu dijuluki Pak Pelung.
Pak Satjaka, adalah de Britto angkatan ke-2, lulus tahun 1952, yang ketika itu masih di Bintaran. Seingat saya, beliau adalah alumnus tertua yang pernah saya temui dalam setiap reuni. Beliau juga pernah menjadi guru di de Britto. Meski tergolong sepuh sendiri, tetapi pergaulannya dengan junior-juniornya tidak terhalangi apa-apa. Dan itulah, sepanjang dia diberitahu bahwa ada reuni (di Jakarta) dia selalu menyempatkan diri datang, meski dengan kursi roda. Ya, sudah beberapa tahun terakhir beliau tidak bisa jalan sendiri sesudah terkena stroke.
Rumah beliau di Cisaat, Sukabumi, daerah penghasil ayam pelung terbaik. Saya sekeluarga pernah main dan menginap di rumah beliau di Cisaat, dimana beliau tinggal bersama anak lelakinya yang paling bontot. Daerah yang sejuk, selain penghasil ayam pelung juga banyak peternak ikan nila. Suguhan buat kami bukan ayam goreng tetapi nila goreng. Ketika pulang kami ditawari membawa ayam pelung, saya tidak mau karena nanti tidak ada yang memelihara dengan baik, dan lagi takut dikomplin tetangga karena ayam pelung kalau kluruk panjang sekali. Namun sejak sering sakit, beliau tinggal bersama anaknya di daerah Meruya.
Saya suka cerita kepada beliau, bahwa saya dibaptis secara Katolik waktu kelas 2 de Britto oleh kakaknya yaitu Romo Al. Wahjasudibja, Pr. Saya harus belajar 2 tahun, karena pada ujian pertama saya tidak lulus.
Semalam, Selasa 23 Agustus 2011, Pak 'Pelung' Ignatius Satjaka Wahjasudibja sudah dipanggil kembali pulang ke haribaan Tuhan. Semoga kehadirannya di surga memberi warna lain di sana, seperti yang beliau lakukan di Paguyuban Alumni de Britto, sehingga surga tidak mboseni.
Jakarta, 24 Agustus 2011
A. Bardhono



