Dari Lustrum ke-12: Akar Yang Masih Tetap Bersulur

Serba-serbi

Akar Yang Masih Tetap Bersulur

Sebuah harapan besar ketika tunas-tunas humanisme itu masih selalu bersemi di negeri yang sedang mengalami “perang dingin” kerukunan ini. Dari tanda-tanda kehidupan baru itu tumbuh asa yang mampu menyembuhkan luka atas kepercayaan yang dirusak oleh segelintir orang.
Hanyalah sebuah fragmen kecil yang nyaris tidak terlihat, tetapi bisa dirasakan dengan batin. Memang tidak seheboh perayaan utamanya, tetapi justru di situ tergambar sebuah kedewasaan yang membudaya, memberi makna yang dalam pada sebuah acara yang mungkin sekadar sebuah temu kangen belaka.
Misa pada Sabtu pagi itu memang lain daripada yang lain, kesan kolosal memperlihatkan awal dari sebuah acara reuni ke-60. Dan, bahkan suasana sakral ini terbawa hingga acara pembukaan reuni dua hari yang sekaligus memberikan cermin sesungguhnya bagi alumni SMA Kolese de Britto.
“Assalamu alaikum warahmatullohi wabarakatuh,” sebuah salam yang diucapkan oleh Presiden Alumni de Britto Haji Datuk Sweida Z mengawali sebuah sambutan. Masih terasa tidak lazim dalam suasana di mana para hadirin baru saja mengikuti misa ekaristi di tengah lapangan sepakbola Kampus Kolese de Britto di Jalan Solo 161 itu.
Hanya sesaat alumni dan siswa yang berada di bawah tenda biru itu merasa ada sesuatu yang tidak lazim. Namun, di luar dugaan secara serentak mereka secara serentak berseru tanpa ragu-ragu, “Wa' Alaikum salam.”
Sebuah salam yang singkat, tetapi artinya senafas dengan ajakan Uskup Agung Mgr Ignatius Suharyo Pr selama memimpin misa pada awal acara reuni itu. Artinya kurang lebih, damai kepadamu serta rahmat dan berkat Tuhan, hanya diucapkan dalam bahasa yang berbeda.
Salam itu sekaligus meyakinkan, dan hampir bisa dipastikan apabila banyak hadirin yang baru detik itu menyadari kalau Ikatan Alumni de Britto dipimpin oleh seorang haji. Suatu yang tidak lazim, tetapi penerimaan yang tulus merupakan sebuah akar humanisme yang sangat menyejukkan.
Walaupun bagi alumnus tahun 1973 yang dibesarkan dalam lingkungan sekolah Katolik itu juga mampu mengungkapkan sambutannya dalam bahasa kasih. Mungkin ini merupakan bagian yang selama ini tertanam pada lingkungan didikan imam Jesuit itu. Agama bukan lagi menjadi senjata untuk saling mengalahkan.
Hal ini juga memberikan cermin bagi kehidupan para siswa yang mampu berbicara dalam bahasa humanisme. Bukan saja yang menyangkut agama, tetapi di situ para siswa bisa menghilangkan dikotomi Cina-Jawa yang menghambat persaudaraan sesama, bahkan dalam segala aktivitas yang kaya ikut membantu siswa yang kurang atau bahkan tidak mampu.

Kebersamaan
Sebuah gambaran indah bagi sekolah yang selama ini dicap “brutal” oleh sebagian orang, terutama ketika de Britto masih menganut pendidikan bebas secara penuh. Masyarakat yang biasa hidup diseragamkan itu hanya melihat sisi luarnya saja, rambut gondrong, kaos oblong, celana pendek dan bersandal jepit merupakan trade mark “seragam” anak de Britto yang tidak seragam itu.
Kesan yang dianggap liar selama ini sama sekali tidak tampak pada diri alumni, bahkan dulu yang rambutnya gondrong “awul-awulan” sekarang sudah necis dan bahkan banyak di antaranya berbusana batik. Kebebasan yang mereka dapatkan telah membentuknya menjadi manusia dewasa yang sangat bertanggung jawab pada lingkungannya.
Dari mereka bahkan lahir tidak kurang dari 37 imam yang mengabdikan diri pada gereja, sebuah prestasi besar yang bukan diukur dari takaran duniawi. Sebuah bukti yang tidak bisa diingkari, kebebasan bukan ukuran moral bejad, tetapi justru sebaliknya mampu mengasah mental “men for others”.
Sebuah misa kolosal yang dipimpin Uskup Agung Mgr Ignatius Suharyo Pr dan didampingi para 22 pastor eks de Britto hasil didikan Kampus Jalan Solo 161 itu memberikan sebuah monumen yang luar biasa. Mereka para pengikut Santo Johannes de Britto yang patungnya diresmikan di halaman dalam sekolah setelah acara pembukaan.
Sentuhan kemanusiaan ini bukan saja terlihat dalam acara seremonial saja, tetapi juga terlihat dalam keseharian alumni. Membangun komunitas antarangkatan, merealisasikan dana beasiswa bagi para siswa yang tidak mampu, bahkan menyantuni para guru maupun pensiunan guru yang mengalami kesulitan.
Komunitas dari mereka yang tinggal di kawasan sekitar Jabodetabek di antaranya khusus datang dengan menggunakan angkutan kereta api yang dipimpin langsung oleh Datuk Sweida. Kelompok pecinta kendaraan VW ada yang datang menggunakan kendaraan tua mereka.

Peringatan
Perayaan kali ini memang berbeda dengan Pesta Emas seperti tahun 1998, di mana acara diselenggarakan di aula. Lapangan bola yang pada acara reuni ke-50 digunakan untuk pertandingan antara siswa dan alumni itu sekarang dipasangi tenda yang cukup besar, menutup lebih dari separuh lapangan.
Di pinggir sebelah timur kira-kira di garis tengah lapangan dibangun panggung yang besar tempat perayaan ekaristi dan pertunjukan di malam hari berlangsung. Acara pada malam Sabtu diakhiri dengan pesta kembang api yang meriah.
“Ketika bertemu mas Supriyatmo Sang Ketua Umum Panitia, saya sudah berani memberi proficiat. Pagar bagus, petugas pendaftaran yang mencukupi, petugas foto dari Duta Photo, panggung besar, tenda luas, sudah menunjukkan impresi yang bagus sekali. Mas, proficiat, iki apik tenan,” kata Antonius Bardhono, mantan Presiden Alumni de Britto.
“Wah, kowe ra ngerti. Sampai tadi pukul 7.00, panitia masih kebat-kebit apakah akan ada yang datang, sebab sampai semalam yang mendaftar kurang dari 200 orang.” kata Ignatius Supriyatmo (angkatan 1965), selaku Ketua Umum Panitia Lustrum XII menanggapi ucapan selamat itu. Nyatanya pagi itu tamu alumni ndlidir ora pedhot-pedhot, membuat semua panitia tersenyum. Tentu saja itu karena kerja keras semua anggota Panitia seperti Heru Linggo, Joko Pesek dan lain-lain, orang-orang kepada siapa semua pantas berterima kasih.

Acara diawali dengan misa kudus yang berlangsung sangat meriah, ada tarian penyambutan. Uskup Agung diiringi oleh 22 konselebran minus romo Bambang yang meskipun sudah memakai kasula tidak naik panggung. Ada koor Felicitas yang membuat misa semakin khusuk.
Jumlah kursi memang tidak sampai 1.000, tetapi tamu yang tidak selesai-selesai datang, menurut laporan pendaftaran sudah melampaui angka 1.000. Mas Gogo BBC yang membawakan acara mampu menghidupkan upacara baik pra maupun pasca ekaristi, maklum pensiunan penyiar radio internasional.
Dalam misa itu konselebran utama adalah Bapa Uskup Agung dibantu para asisten adalah Romo Provincial SJ Riyo Mursanto SJ, Romo Rektor de Britto Ageng Marwoto SJ, romo lulusan de Britto tertua dan termuda. Lalu di belakang panti imam berjajar pastor-pastor alumni dan mereka yang pernah maupun sedang berkarya di de Britto.
Dalam homilinya, Bapa Uskup Agung menggarisbawahi tentang kebebasan atau kemerdekaan. Di mana kebebasan sejati bukan bebas “dari”, tetapi adalah bebas atau merdeka “untuk”.
Selesai Misa, ada peresmian patung Santo Johannes de Britto yang diletakkan di bawah pohon beringin halaman dalam, di depan aula. Entah berapa biaya pembuatan patung itu, menurut mas Temo itu bukan dari panitia tapi peran Romo Ageng. Replikanya saja ketika dilelang malam hari laku mulai dari yang besar Rp 17 juta dan lelang yang paling kecil Rp 11 juta.
Lalu ada 'seminar' politik. Untuk acara yang satu ini mendapatkan catatan dari teman-teman alumni. Bukan hanya suasananya tidak pas, tetapi juga peletakan sound-system di belakang para audiens di aula itu malah mengganggu, bukan memperjelas.
Tentu saja membuat paparan pakar politik J Kristiadi yang menarik itu tidak tertangkap dengan baik. Apalagi ini ajang reuni, isinya pasti serba reuni, lebih banyak yang terlibat ketemu dan ngobrol dengan kawan-kawan mbelingnya dahulu.
Selesai seminar politik, acara bebas. Nostalgia, foto-fotoan. Melihat situasi kelas yang tidak berubah. (Tidak berubah? Ah, ini pertanyaan bersayap, jawabannya mengundang diskusi panjang.) Daripada cuma
melihat-lihat, lalu dipanggil almuni untuk duduk di bangku, memenuhi satu kelas, terus dipoto. Biar ingat zaman sekolah dahulu, namanya reuni dan nostalgia .....
(AW Subarkah dan bahan dari milis)