Gandhi dan Pendidikan yang Hakiki

Blog

Sepertinya usia yang sudah 70 tahun tak lagi ia pedulikan. Dari ashram nya di Desa Wardha, ia rela berjalan kaki sejauh 3 mil hanya untuk menjemput Ronald Duncan, seorang mahasiswa muda sekaligus aktivis pemimpin pemogokan buruh di Inggris. Saat melihat kakek tua itu berjalan kaki menjemputnya, Ronald Duncan tergesa turun dari taksi. Kemudian mereka berjalan berdua sambil berdiskusi bagaikan kawan lama tanpa selisih usia. Perjumpaan hangat antar dua insan tak saling kenal ini terjadi tahun 1939 di India, dan kakek tua itu adalah Mahatma Gandhi.

Jika hendak menggali makna terdalam dari pendidikan, tak ada salahnya kita belajar banyak dari Mahatma Gandhi. Lelaki India kelahiran 1869 itu, sebelum menjadi seorang mahatma hanyalah mahasiswa fakultas hukum di Inggris, anak seorang kaya yang mengisi hidup dengan biola dan dansa. Tetapi setelah melewatkan hari-hari di Durban, Afrika Selatan, Gandhi muda semakin peka dan berani memutuskan untuk melawan rasisme, membela kaum terlemah demi keadilan.

Hingga nyawanya ditebus oleh peluru, kehidupan Gandhi dicurahkan untuk perlawanan terhadap ketidakadilan dengan cara-cara nir kekerasan. Dalam perlawanan itu, keberpihakan Gandhi terhadap kaum lemah sangatlah jelas. Dia memimpin didepan, melakukan tindakan riil untuk mensejahterakan kaum termiskin di Afrika Selatan ataupun India. DIa mencari kebenaran dan menganalisis situasi hingga mengerucut pada sebuah ajaran besar : satyagraha (kekuatan kebenaran).

Memahami hakikat terdalam dari pendidikan semestinya tidak akan banyak berbeda dengan memahami sisi kemanusiaan Gandhi dalam mencari keadilan. Sebuah pendidikan yang sejati adalah suatu proses dimana manusia berusaha menemukan dimensi kemanusiaannya secara utuh. Oleh sebab itu, mesin-mesin pendidikan haruslah mengacu pada rasa kemanusiaan, juga keadilan.

Ironis bila pendidikan yang berupaya membawa manusia semakin beradab justru dipenuhi dengan cara-cara yang hewani; mendidik dengan kekerasan. Kekerasan yang dimaksud bukanlah terbatas pada pemukulan fisik, tetapi juga berupa tugas dan kewajiban diluar batas kemampuan yang diberikan pendidik sehingga menimbulkan tekanan-tekanan yang merusak mental. Proses pendidikan semacam ini justru memaksa anak didik menjadi sebuah mesin sesuai keinginan si pemesan. Pendidikan semacam ini menggerus sisi kemanusiaan

Selebihnya, sebuah proses pendidikan haruslah mencerdaskan. Hakikat mencerdasan adalah membawa manusia kepada kebenaran. Jadi, mengikuti sebuah proses pendidikan seharusnya identik dengan mencari kebenaran. Kebenaran yang sejati bisa dicapai jika kita mampu untuk kritis pada suatu hal, sebagaimana Gandhi kritis pada sistem kolonialisme Inggris atau keyakinannya bahwa pengucilan kaum pariah (the untouchable) merupakan suatu kesalahan.

Apabila dalam sebuah proses pendidikan, ada fakta yang ditutup-tutupi, ada sebuah hal yang disimpan rapat agar tidak dikritisi, maka kebenaran yang hakiki tak mungkin untuk ditemukan. Jika demikian, pendidikan akhirnya hanyalah berujung pada sekumpulan doktrin, ataupun rumus-rumus yang membebani. Anak didik hanya pandai menghafal tetapi tidak memahami. Pendidikan yang membodohi.

Ki Hadjar Dewantara pernah menulis, pendidikan jiwa merdeka merupakan suatu hal yang prinsipil dalam pendidikan nasional. Jiwa merdeka itu dapat dihasilkan dari pendidikan yang membebaskan. Bukan ‘bebas dari’ melainkan ‘bebas untuk’. Manusia-manusia terdidik semestinya lebih bebas untuk memperjuangkan kebenaran. Tidak boleh dilupakan bahwa dalam kebebasan itulah nilai-nilai toleransi dan tanggung jawab dapat tertemui.

Semasih ada kebenaran yang ditutupi, budaya kritis yang dikebiri, atau mendidik dengan cara yang membebani, mustahil proses pendidikan bisa menemukan arti yang hakiki.