
Itu adalah momen yang tak terlupakan. Istimewa. Momennya sendiri memang sudah istimewa, yaitu Lustrum ke 12. Namun acara dan suasana berhasil membuat lebih istimewa lagi. Puncak rangkaian Lustrum 12 dan Reuni Akbar di hari Sabtu tanggal 23 Agustus 2008, dipuncaki dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Ignatius Suharyo Pr. Beliau didampingi oleh Provinsial SJ Riyo Mursanto SJ, Rektor De Britto Ageng Marwoto SJ dan pastor-pastor alumni dan yang pernah atau sedang berkarya di De Britto, total 22 imam.
Misa diadakan di lapangan bola yang ditutup tenda hampir separuhnya, dengan panggung besar di tengahnya. Menurut panitya, jumlah hadirin terdaftar lebih dari 1000 entah yang tidak sempat mendaftar. Kehadiran alumnus-alumnus sepuh sungguh mengesankan akan semangat dan cintanya kepada De Britto. Acara ini dipandu oleh Mas F. Prayoga atau yang biasa dipanggil Gogo, yang mampu menghidupkan suasana pra dan pasca Misa. Seusai Misa diresmikan patung St. Yohanes de Britto yang diletakkan di bawah pohon beringin di depan aula.
Lalu ada seminar politik oleh J. Kristiadi, yang kurang peminat namun diskusinya cukup menarik. Lebih banyak Kadang Manuk yang lalu asyik bertemu dan ngobrol dengan kawan lamanya. Namanya reuni.
Malam harinya diadakan Andrawina (makan bersama) dan pentas kesenian, di lapangan bola juga. Makanan berbagai rupa dan rasa disediakan, baik yang haram menurut Taurat maupun yang halal. Dan seperti biasa, Den Baguse Ngarso yang menguasai acara dengan gojeg kerenya. Acara kesenian sungguh padat hingga tengah malam. Yang mengesankan adalah hadirnya ensemble gesek dari SMA Stella Duce II, dengan anggota cukup banyak memenuhi hampir seluruh panggung. Ada band Alumni dengan pemain dari berbagai angkatan, konon mereka hanya latihan sekali.
Reuni terjadi di mana-mana. Masih banyak alumni yang siangnya belum bertemu dan baru bertemu di malam itu. Mengharukan, banyak dari mereka yang tidak bertemu lagi sejak keluar dari De Britto. Pisuhan pun bertaburan, mengekspresikan kegembiraan, kangen, takjub dan sebagainya. Mereka menjadi murid-murid nakal lagi. Lewat tengah malam, acara ditutup dengan pesta kembang api yang hebat sumbangan dari salah satu alumni.
Hari Minggu pagi diadakan acara jiarah ke makam orang-orang yang berjasa kepada De Britto, namun cara ini kurang diminati. Jadi, kapan lagi ada Reuni Akbar, menunggu tahun ke 70 atau Lustrum ke 15? Kayaknya harus dicarikan alasan yang tidak harus tepat untuk mengadakan acara serupa, keburu dipanggil.
Foto-foto bisa dilihat sebagian di http://groups.yahoo.com/group/debritto-net/photos
A. Bardhono (1971)



