Main Trumpet Asyik-asyik Aja

Budaya

trumpetOleh: Yo. Prihardianto JB/III A2/76

Meski suaranya apik, merdu dan mendayu, meniup trumpet sepertinya perlu ngotot, perlu ngeden, membuat kita ciut nyali, enggan untuk mencoba, khawatir turun berok. Padahal kalau kita tahu siapa dia dan paham cara meniupnya, bermain slompret ternyata mengasyikkan.

Di lapangan, seorang mayoret terlihat tengah beraksi memimpin barisan marching band. Bodinya yang sintal semampai bak peragawati berbalut kostum mini berhias rumbai-rumbai mampu menarik perhatian penonton. Terutama kaum cowok jomblo. Tongkat komandonya sesekali dilempar tinggi ke udara dan hap! …,lalu ditangkap.

Barisannya terdiri dari beberapa kelompok diantaranya peniup trumpet. Trumpet-trumpet yang dimainkan itu nampak serba mengkilat mengesankan kilau logam. Berkilau, karena sememangnya mereka terbuat dari logam, dari bahan kuningan dilapis krom, perak atau warna emas. Karena metal kuningan itulah maka alat musik tiup trumpet memperoleh julukan sebagai alat musik tiup logam alias brasswind. Julukan ini berlaku untuk seluruh brayat trumpet seperti Cornet, Corno, French Horn, Trombone, Tuba dsb.

Ukuran brasswind itu berbeda-beda, ada yang seukuran botol bir dan ada pula yang sebesar ular Anaconda, mewakili aneka wilayah nada, sopran, alto, tenor atau bas. Agar ringkas, mereka ditekuk-tekuk dan digelung-gelung. Model tekukan dan gelungan bervariasi, ada yang ditekuk mirip klip penjepit kertas memo, ada yang dibuat serupa peniti, ada juga yang dimodel spiral persis obat nyamuk bakar.

Bunyinya…, keras! Satu trumpet mampu berteriak sekuat tenaga 6 watt sehingga pantas kalau trumpet kemudian dipilih untuk mengisi formasi musik lapangan seperti marching band itu. Satu saja sudah vokal, apalagi kalau krubutan. Rame dah! Gaya memainkannya aneka macam, ada yang dipeluk, dikalungkan, atau cukup ditenteng saja.

Tidak hanya jago di lapangan, mereka ternyata juga jago main di kamar, di pagelaran musik kamar. Kita dapat menyaksikan aksinya, dapat mendengar suaranya yang kadang mendesah, kadang menyalak, disela bunyi alat musik gesek, alat petik, perkusi dan lain-lain.

Bukan itu saja, brasswind biasa pula hadir di panggung hiburan musik tanjidor, di panggung musik jazz, tampil mengiringi musik dansa hura-hura, mengiringi kirab prajurit kraton, mengiringi upacara pengibaran bendera, upacara pelepasan jenasah, mengiringi pertunjukan sirkus, memusiki film kartun semacam Tom & Jerry.

Di jalur musik jazz, nama beken seperti Louis Armstrong atau Mile Davis sudah tidak asing lagi bagi telinga kita. Mereka adalah para kampiun, para peniup trumpet kaliber dunia.

MENARIK DAN MENGESANKAN

Kita pasti penasaran melihat alat pengatur nada trumpet yang hanya berupa 3 buah piston. Meskipun berpiranti sederhana namun trumpet mampu menjelajah semua nada, lengkap hingga ke nada-nada kromatik. Menarik!

Dan lagi, meskipun berbeda ukuran, berbeda bentuk dan berbeda latar belakang, namun semua brasswind dibunyikan dengan cara yang sama yaitu dengan cara ditiup mouthpiecenya. Dan tanpa janjian, mouthpiece atau piranti bantu sumber bunyi masing-masing mereka memiliki desain yang nyaris serupa.

Piranti pengatur nada trumpet biasa kita sebut piston. Jumlah piston cuma 3 namun alat musik itu mampu menyuarakan banyak nada, do-di-re-ri-mi-fa-fi-sol dst. lengkap hingga mencapai lebih dari 2 ½ oktaf.

Sistim piston yang dikembangkan untuk pertama kalinya di Jerman oleh Heinrich Stolzel pada 1814 dulunya berupa tabung atau selongsong mirip spet suntikan. Di dalam tabung terdapat piston beserta kelengkapannya seperti gagang piston dan per. Adanya per membuat piston dapat ditekan dan kembali membal.

Beberapa lubang seperti liang terdapat di bodi piston. Liang-liang ini berfungsi menyalurkan udara ke jalur nada yang dituju. Perubahan posisi piston, naik atau turun akan membuka atau menutup lubang saluran dan mengubah arah aliran serta jarak tempuh udara di dalam tabung. Makin panjang jarak, nada makin merendah.

Penemuan piston ini sangat penting. Dengan piston kita tidak perlu lagi repot-repot menggonti-ganti sulur bodi, menambah atau mengurangi panjangnya guna mendapatkan suara yang pas. Cukup dengan mencet-mencet tombol piston saja dan…, semuapun beres. Piston sebagai pengatur nada ini dapat diaplikasikan ke semua jenis alat musik brasswind, baik yang berukuran kecil, sedang maupun besar. Pengembangan sistim piston dilakukan kemudian oleh Perinet dari Berlin pada 1838.

CARA NADA DIHASILKAN

Cara kerja piston cukup simple. Posisi piston tanpa ditekan disebut posisi open. Kode angka 1 merujuk pada aksi menekan piston pertama, menggunakan jari telujuk tangan kanan, disebut posisi 1. Angka 2 adalah piston ke dua, ditekan dengan jari tengah, disebut posisi 2. Angka 3 untuk piston ke tiga ditekan dengan jari manis disebut posisi 3. Nomor urut piston dihitung mulai dari piston pertama yang berada paling dekat mouthpiece, piston kedua berada ditengah dan piston ke tiga berada dekat ke corong.

Posisi open, tanpa menekan, akan menghasilkan nada-nada harmoni C /G/c/e/g/bes dan c. atau DO – SOL – do – mi – sol – li – do. (Nada oktaf dicapai dengan bantuan formasi bibir atau embouchure yang mengetat ketika meniup mouthpiece).

Posisi 2, yaitu aksi menekan piston ke 2 akan membawa nada-nada open turun ½ step, nada. C menjadi B atau Do menjadi Si. Nada G turun setengah menjadi Fis atau Sol menjadi Fi dan seterusnya.
Posisi 1, yaitu menekan piston ke 1 akan membuat nada open turun sebanyak 1 step. Nada C menjadi Bes atau Do menjadi Li. Nada G turun satu menjadi F atau Sol menjadi Fa dst.

Posisi 1 dan 2 bersamaan, yaitu dengan menekan piston ke 1 dan ke 2 secara bersamaan akan menurunkan nada open sebanyak 1 ½ step. Nada C menjadi A atau Do menjadi La. Nada G menjadi E atau Sol menjadi Mi dst.
Posisi 2 dan 3 bersamaan akan menurunkan nada open sebanyak 2 step. Nada C menjadi Gis atau Do menjadi Sel. Nada G menjadi Dis atau Es atau Sol menjadi Ri dst.

Posisi 1 dan 3 bersamaan akan menurunnkan nada open sebanyak 2 ½ step.. Nada C menjadi G atau Do menjadi Sol dan Nada G menjadi D atau Sol menjadi Re dst.

Posisi 1, 2 dan 3 bersamaan akan menurunkan nada open sebanyak 3 step. Nada C menjadi Fis atau Do menjadi Fi dan nada G menjadi Cis atau Sol menjadi Di dst.

Model lain dari piranti pengatur nada adalah berupa slide yang operasinya dengan cara ditarik serta diulur. Uluran slide akan menambah ukuran panjang tabung, dan sebaliknya ketika slide ditarik, tabung akan memendek. Penambahan panjang bodi atau tabung dalam skala tertentu akan menurunkan nada sebanyak step tertentu pula.

Nada bisa diatur sesuai kemauan, tapi tentu dengan syarat harus ada bunyi. Sumber bunyi trumpet berasal dari mouthpiece. Mouthpiece ini bisa terbuat dari kayu, tulang, gading, perunggu, perak, emas, kuningan ataupun tembaga dll. Bentuknya seperti corong kecil, nyaris seperti model stetoskop pak dokter.

Cara membunyikannya dengan dibekapkan di bibir lalu ditiup. Variasi nada, tinggi-rendahnya, didapat dengan cara mengatur formasi bibir, merapat atau membiarkan tetap ndomble. Meski dapat saja mouthpiece itu menyuarakan beberapa nada, sesuai dengan posisi atau keketatan bibir kala meniup, tapi nada-nada yang dihasilkan belum memadai, belum cukup lengkap. Makanya mouthpiece perlu dibantu oleh piranti piston ataupun slide agar dapat bernada sempurna.

Meniup mouthpiece perkaranya hampir mirip dengan cara kita bersiul. Hanya saja ketika kita meniup trumpet, jangan lupa mouthpiecenya dipasang. Nah, dibalik mouthpiece itu, silahkan bibir sebal-sebul. Awalnya memang tidak gampang. Tapi setelah biasa, meniup trumpet bakal enak saja, tak perlu ngotot ataupun ngeden, tak perlu khawatir turun berok. Kagak ngaruh!

ANEKA DESAIN BRASSWIND
desain trumpet
Ada 3 desain utama brasswind yang kita kenal yaitu: desain trumpet, desain bugle dan desain horn. Desain trumpet memiliki ciri bertabung silindris dan bergelung pipih. Bentuk bugle berciri bergelung pipih dan bertabung kerucut. Sedang desain horn berciri bergelung melingkar, bertabung kerucut dan bercorong lebar seperti bunga sedang mekar.

Bentuk trumpet masa kini, kita semua tahu. Mouthpiece berada di salah satu ujung dan corong berada di ujung lainnya. Di tengah-tengah diantara bodi silindris yang bergelung pipih, terpasang piston sebagai alat bantu pengatur nada.

Jauh berabad sebelumnya, trumpet itu hanya berupa pipa kayu panjang dengan ujung mencorong, berbentuk seperti corong. Alphorn merupakan salah satu dari model trumpet kuno itu, panjangnya mencapai lebih dari 2 meter dan banyak digunakan di daerah pegunungan Alpen. Dari catatan diketahui bahwa bahan metal telah digunakan menggantikan bahan kayu untuk membuat trumpet panjang tersebut pada abad ke 13.

Di awal abad ke 16, benda panjang metal itu terlihat telah digelung dalam 3 putaran sehingga nampak ringkas, mudah ditenteng untuk diajak ngamen. Sama sekali masih polos, tanpa piranti pengatur nada, sehingga nada yang dihasilkan sangat minim. Kita mengenalnya sebagai sangkakala atau trumpet natural yang hanya bisa berbunyi Do - Sol serta nada oktaf do – mi – sol – li – do.

Upaya untuk melengkapi nada pada sangkakala terus dilakukan. Menjelang abad ke 18 crook atau batang pipa yang dapat diselipkan ke tabung pipa utama mulai dikenal, berfungsi untuk mengganti-ganti kunci nada. Tahun 1801 Anton Widinger dari Vienna mencoba melubangi bodi trumpet dan menempatkan klep bergagang yang dapat dibuka-tutup di atas lubang guna menghasilkan variasi nada. Pembaharuan terus berlangsung hingga pada akhirnya ditemukanlah piranti pengatur nada berupa piston.

Kata Cor atau Cornu dalam bahasa latin berarti horn atau tanduk kerbau. Bugle atau buculus dalam bahasa latin artinya kerbau muda alias gudel dalam bahasa Jawa.

Sosok cornet, demikian kita biasa menyebutnya, meskipun modelnya nyaris sama dengan trumpet, namun terlihat lebih gemuk dan lebih mengerucut. Suaranya terdengar lebih dalam dan lembut. Bugle atau cornet sudah dikenal sejak jaman purba, dipakai sebagai alat komunikasi jarak jauh, Di abad pertengahan, bugle yang terbuat dari metal mulai dipakai di kemiliteran, sebagai aba-aba apel pagi siang dan malam. Pada tahun 1810 Joseph Holliday dari Irlandia menerapkan sistem piston pada bugle cornet. Orang bilang, si bogel, bukan bugil, lebih mudah dimainkan dibanding trumpet.

Satu dari alat musik kuno berbentuk seperti tanduk atau horn dan terbuat dari tembaga dikenal dengan nama Lur. Model yang lain adalah Cor de chasse dalam bahasa Perancis yang berarti hunting horn. Dalam perkembangannya alat musik itu berubah menjadi Corno atau disebut juga French horn.

French horn digelung bulat melingkar dengan corong yang ekstra lebar. Jauh sebelum ditemukan sistem crook ataupun piston, Anton Hampel telah mengenalkan tehnik bermain Corno atau French horn dengan bantuan jari-jari tangan. Sambil memangku dan meniup French Horn, tangan kanan pemain merogoh corong dan memanipulasi lubang corong itu untuk menghasilkan nada-nada tambahan. Meskipun sistim piston kemudian digunakan, namun gaya main French horn yaitu dengan merogoh corong masih tetap dipertahankan hingga sekarang. Sangat unik.

TROMBONE YANG MENYODOK

Alat tiup yang satu ini bukan berpiston tapi berslide. Tarik dan ulur, seperti itulah cara mengatur nada pada trombone slide. Dengan slide ini trombone dapat menghasilkan nada-nada lengkap.

Di masa lalu tombone disebut sackbut dari bahasa Perancis saquer yang berarti tarik atau cabut dan bouter yang berarti ulur. Sistem slide memungkinkan trombone untuk dimainkan secara glissando yaitu menggelincirkan suara tanpa terputus alias bisa meraung-raung. Trombone slide ini merupakan satu-satunya alat musik tiup yang sejak dari awal terciptanya sudah mampu menghasilkan nada lengkap, mampu meniti keseluruhan nada.

Anggota keluarga alat musik tiup brasswind masih banyak lagi seperti: Flugel horn, Melophone, Tuba, Sausaphone dll. Mereka beraneka ukuran serta mewakili aneka wilayah nada, dari wilayah nada sopran, alto, tenor, baritone hingga wilayah nada bas yang paling ngebas.

Ketika satu jenis dari mereka bisa kita mainkan, kita kuasai, maka yang lain bisa pula kita tangani karena mereka memiliki kesamaan dalam cara meniup maupun cara mengatur nada. Coba saja kalau enggak percaya.