Pekerjaan

Opini

FX Purwoko Sumowijoyo
Pundee Associates

fxp KERJA BUAT APA? Kalau ditanya kerja buat apa, mungkin Anda akan serta-merta menjawab (sambil sedikit berang): "Kerja buat apa? Pertanyaan mbocahi itu! Buat apa lagi kalau bukan duit? Kan sudah jelas itu!"

Sebentar, sebentar ... Boleh-boleh saja, tetapi mestinya Anda pernah mendengar istilah post power syndrome. Nah, berarti sebenarnya, pekerjaan itu more than just for a money, lebih dari sekedar duit. Dari gejala yang banyak dialami pekerja yang memasuki masa pensiun itu, paling tidak kita bisa tahu bahwa pekerjaan itu juga power, apalagi bila status strukturalnya tinggi. Itulah sebabnya, manula yang harus melepaskan jabatan sering kelabakan ngalor-ngidul mencari kegiatan, entah dagang, entah nyeniman, atau jadi konsultan, yang penting kerja. Katanya biar otaknya tidak mati, katanya biar ototnya tidak kaku. Bohong! Sebenarnya biar eksistensinya masih kelihatan, diakui, syukur-syukur ditepuktangani. Lepas dari imbalan materiil dan power yang kita dapat, pekerjaan is a part of our life. Pekerjaan adalah bagian dari eksistensi kita, identitas kita, kepribadian kita ... (you name it!).

Oleh karenanya, meskipun mengantongi pesangon yang cukup untuk hidup dua-tiga tahun, kalau kena pehaka, orang bisa sutris habis. Gimana tidak? Lha wong pehaka itu sama saja mengamputasi salah satu bagian hidup kita. Hidup menjadi terasa berbeda, ada yang hilang, tidak lengkap, buntung. Ya jelas saja hal itu bikin bingung, malah yang parah jadi ngengleng, padahal saldo tabungannya bengkak. Memang jamak, manusia baru tahu harga sesuatu bila sesuatu itu telah terbang melayang. Yang masih bekerja, sudah layak dan sepantasnya untuk lebih menghargai pekerjaannya sebelum tergusur karena uzur. Menghargai pekerjaan itu berarti menghargai hidup kita sendiri. Terlalu banyak teman-teman yang saya kenal, yang (maaf) suka merendahkan pekerjaannya sendiri; menganggap pekerjaannya sendiri semata-mata sebagai alat buat nyari duit. Bukankah ini pelecehan? Meskipun duit yang kita dapat dari pekerjaan itu halal, kalau aspek-aspek lain dari pekerjaan tidak pernah kita hargai, hidup akan gampang sekali menjadi tertekan. Jelas, karena kita memeras hidup kita sendiri. Malah-malah, orang yang sudah terlanjur terobsesi sama yang namanya duit, akan gampang tergelincir kepada tindakan koruptif. Alih-alih menghargai pekerjaan, aturan dan etika pun sudah sudah terhapus dari kamus. Saya tak pernah bosan mengangkat topi untuk orang-orang yang berdedikasi tinggi kepada pekerjaannya, yang wutun (Bhs. Jawa), yang aken (Bhs. Bali). Mereka adalah orang-orang yang menyurahkan seluruh energinya untuk pekerjaan itu sendiri, dan menikmatinya. Orang wutun tidak (begitu) peduli dengan imbalan yang akan diperoleh dari pekerjaannya, karena ia sudah bahagia oleh pekerjaan itu sendiri—oleh proses yang ia jalani, dan oleh hasilnya. Sekali lagi, bukan oleh imbalannya.

gambar 2Orangtua saya yang guru kedua-duanya menunjukkan contoh yang sempurna untuk saya. Mereka sangat menikmati pekerjaan mereka, sampai bersedia melakukan hal-hal di luar batas tugas, di mana pun, kapan pun. Murid yang tidak berani masuk gara-gara telat SPP, selalu menjadi sasaran kunjungan bapak saya untuk dicarikan jalan keluar, kalau perlu ditomboki. Kok mau ya? Saya sendiri pun, baru dibelikan motor (tentu saja kredit) setelah saya ngambek tidak pulang beberapa hari. (Saya menyesal, sungguh). Mereka bahagia karena mempunyai dedikasi kepada profesi. Semalam saya nonton latihan konser vokal klasik. Jelas sekali bahwa untuk bisa menyanyi semerdu itu, para vokalis telah melewati suatu proses latihan yang panjang dan melelahkan. Saya berani bertaruh bahwa latihan mereka jauh lebih berat dari yang pernah dilakukan Inul atau bahkan KD sekali pun. Mengapa mereka masih begitu antusiasnya menyanyi, padahal kalau dibandingkan, bayaran yang mereka terima tak seujung kuku honor Inul sekali mangap (sambil ngebor, tetu saja)? Karena mereka menikmati pekerjan menyanyi, kan? Penyanyi seperti mereka itu, pasti sangat bahagia ketika merasakan pompaan udara di dada dan perut mengaliri organ suara dan mengeluarkan irama dari mulut mereka. Sekecil-kecilnya getaran suara pasti terasakan dan ternikmati oleh setiap lembar syaraf di dalam tubuh mereka, sehingga pada saat itu mereka menjadi bahagia sebahagia-bahagianya. Excitement pun terakumulasi sehingga mereka mengalami ecstasy ... trance ... orgasm. Saya, yang hanya mendengarkan pun hanyut, tak sengaja ikut manggut-manggut. (Saya minum beberapa sloki anggur sih ...) Kalau sudah mencapai puncak kenikmatan, mestinya duit tidak penting. Entah setelah selesai nyanyi dan sadar lagi :-).

Untuk yang belum terlanjur kecebur kepada pekerjaan keparat (yang terpaksa dijalani karena desakan "orang-orang tercinta"), coba pertimbangkan nasehat Confusius: "Carilah pekerjaan yang kamu sukai, maka kamu tidak perlu bekerja seumur hidup". Kalau ada yang ngeyel dan masih mempertahankan pedoman "suka nggak suka yang penting duit", kelak ia akan tahu bahwa ia salah. Menjadi ekstrim kiri dengan berpedoman "ada nggak ada duit yang penting saya suka", mungkin malah tidak salah, sejauh yang disukai itu, sedikit banyak menciptakan nilai untuk orang lain. Simbah saya pernah bilang:"Duwit kuwi dudu swarga. Ananging menawa koncatan duwit rasane kaya neng neraka." (Uang bukan surga, tetapi tanpa uang rasanya seperti di neraka). Jadi, pertimbangkan masak-masak karir yang akan ditekuni. Bagi yang nasinya sudah menjadi bubur, apa lacur, saya hanya bisa menyarankan "cintailah pekerjaan Anda".

Selamat bekerja!