Kota Magelang memang tak segemerlap Jakarta. Tapi, dalam ketidakgemerlapan itu, ada tersimpan rahasia hidup. Tersimpan rapi, meski bisa diintip.
Kami, aku dan dua manuk seangkatan, bersama seorang istri di antara keduanya, malam itu meluncur ke Magelang dari Jogja. Tujuannya sebuah warung makan di depan Kantor Jamsostek Magelang, samping depan RS Tidar. Warung makan bernama "Madukoro" itu menghidangkan makanan serba ayam. Yang istimewa adalah steak ayam. Dan yang jauh lebih istimewa adalah kokinya, manuk angkatan kami.
Warung ini adalah pengembangan versi rumah makan yang telah beberapa tahun dibukanya di bilangan Mertoyudan. Setelah sukses mengibarkan rumah makan ayam "Larasati", manuk yang lulusan Psikologi Unika Soegijapranata ini melebarkan sayapnya dengan mendirikan tenda.
Nyatanya warung itu laku. Selama kami duduk di sana, meski hujan mengguyur deras, silih berganti konsumen datang membeli. Ada yang ngiras, makan di tempat, ada yang membawa pulang bungkusan. Kami menyantap makanan yang terhidang dengan sangat lahap. Bukan pertama-tama makanan penyebabnya. Lebih dari itu, kami bersyukur atas teladan yang ia berikan.
Jika dulu ia tidak keluar dari pekerjaan, ia akan menjadi kolektor nama. Ya, sebagai manajer personalia, kalau tidak mempromosikan orang ya memecat mereka. Itu yang dilakukannya dulu. Dan itu yang membuat hati kecilnya berontak.
Kini, bukan saja mempromosikan orang, ia sendiri bekerja memberi contoh untuk anak-anak muda yang dipekerjakannya. Sesekali ia mengelap peluh mengingat hawa di depan kompor memang selalu panas. Lalu ia menghitung lembar demi lembar uang seribuan yang diulungkan pembeli. Tampak sekali ia mensyukuri rejeki malam itu.
Reuni kecil malam itu membawa kami ke dalam perenungan tentang ke mana tujuan hidup kami.



