PIDATO KEPSEK

Pendidikan

(FX Purwoko Sumowijoyo)

Menyambut UN yang sebentar lagi datang, Pak Kepsek berpidato di depan siswa-siswa kelas IX (3 SMP). Dengan suara berwibawa, dinasehatinya anak-anak (begitulah ia memanggil murid-muridnya): “Anak-anak, sebentar lagi kalian menghadapi UN. Seperti telah Bapak sampaikan berkali-kali, kali ini pun Bapak mengingatkan kalian untuk tetap menjadi pemberani. Beranilah menjadi diri sendiri! Belajarlah untuk diri sendiri! Kerjakan semua soal sendiri! Andalkan kemampuan kalian sendiri!”

Ia mengambil jeda untuk memberikan kesempatan agar kata-katanya bisa dicerna dengan baik. Setelah hening beberapa saat, ia melanjutkan: “Apa pun hasilnya, berapa pun NEM yang kalian dapat, sejauh itu merupakan hasil kerja kalian sendiri, berbangga hatilah karena kalian jujur. Berbanggalah karena kalian telah berani menjadi diri sendiri. Seorang pemberani layak untuk dipuji.”

“Kalau kalian berhasil mendapatkan nilai sempurna, tetapi nilai itu diperoleh dengan cara nyontek atau mendapatkan bocoran soal, berarti angka sempurna itu sebenarnya bukan milik kalian. Berarti kalian tidak jujur. Kalian berbohong. Kalian membohongi orang lain dan membohongi diri sendiri. Kalian telah kehilangan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Kalian telah menjadi pengecut!” Suara Pak Kepsek memercikkan api.

“Pengecut tidak pantas membanggakan diri. Pengecut itu tercela. Pengecut hanya pantas untuk merasa malu!” “Lupakan membuat contekan. Lupakan mengejar-ngejar bocoran soal. Lupakan kebohongan. Jangan jadi pengecut!” Api menyala-nyala. “Mulailah belajar segiat-giatnya. Siapkan diri kalian sebaik-baiknya. Hadapi UN dengan kemampuan sendiri. Terimalah apa pun hasilnya. Jadilah diri sendiri. Jadilah pemberani!”

Lalu Pak Kepsek minta anak-anak untuk menempelkan tangan di dada masing-masing sambil serentak meneriakkan ‘Saya adalah pemberani’ berkali-kali. Api membakar seluruh ruangan. Api membakar jiwa anak-anak. Api mengobarkan semangat kejujuran. Api membasmi bibit-bibit kecurangan.

Ah, pidato itu hanyalah sebuah adegan imajiner yang bermain-main di dalam khayalanku. Saya berangan-angan Kepsek anakku berpidato demikian. Biar anakku tidak menjadi pengecut. Biar anakku menjadi pemberani.

Kepsek anakku, belum lama ini memang berpidato juga. Berdasarkan penuturan anakku, dengan sedikit dramatisasi dari saya, beginilah ia mengawali aksi orasinya: “Anak-anak, lihatlah berkeliling.” Anak-anak pun melihat berkeliling dan tentu saja, di aula yang disesaki sekitar 400 murid kelas IX, mereka saling bertemu pandang.

“Siapa yang kalian lihat?” Lanjut Pak Kepsek. “Kalian melihat kawan atau lawan?”

Meskipun belum tahu arah pembicaraan sudah pasti anak-anak dengan lantang dan serentak menjawab: “Kawan!”

“Bagus, bagus. Kalian semua adalah kawan. Kalau kalian berkawan, berarti kalian harus setiakawan. Kalian harus saling membantu.” Jeda, anak-anak diam memerhatikan. Mungkin sebagian terpesona oleh ide Pak Kepsek. “Yang mempunyai kelebihan janganlah sombong, janganlah pelit. Bagilah kelebihan kepada yang membutuhkan. Yang merasa mempunyai kekurangan, jangan sombong juga, tidak perlu memaksakan diri berusaha mati-matian padahal hasilnya nol besar.” Konon, bahkan Pak Kepsek memberikan tips and tricks ‘kesetiakawanan’ itu segala.

Edan! Kepsek anakku sungguh jago menyembunyikan pesan bobrok di balik verbalisasi berwajah malaikat yang dinamainya kesetiakawanan. Pidatonya, di mataku, semata-mata merupakan refleksi kepengecutannya. Ia takut banyak anak-didiknya yang tidak lulus. Ia ngeri rata-rata NEM mereka rendah. Ia khawatir akan banyak jari menudingnya tidak becus. Kepengecutan itu telah dengan sempurna menyemaikan bibit sikap manipulatif. Anak-anak itu mau jadi apa?

Pidato Kepsek

Membaca tulisan ini, saya merasa bahwa keprihatinan saya tersuarakan. Saya prihatin dengan kecenderungan, yang mungkin sudah bermetamorfosa menjadi sebuah paradigma, lebih berat lagi lalu menjadi kultur. Kecenderungan short-cut, jalan pintas, yang lebih popular ada yang menyebut instant. Klise sih, tapi ya begitu. Dalam problem Pak Kepsek di renungannya denmas FX Purwoko ini, adalah mencapai kelulusan 'pokoknya harus lulus' apa pun caranya. Dalam praktek memang begitu: dengan joki, dengan bocoran, kepekan, tedhak-tedhakan, katrolan. Saya kadang heran, kenapa mesti lulus sekarang? Apa jaman sekarang tidak boleh nunggak lagi, seperti jaman dahulu menjadi veteran adalah biasa dan bahkan membanggakan (?). Apa nunggak sudah tidak lagi bisa dilihat sebagai proses, entah proses belajar, pendewasaan, bahkan proses hidup.

Saya ingat beberapa tahun lalu ketika secara bercanda bertanya kepada anak2, bagaimana kalau kalian tidak naik kelas. Jawabannya di luar perkiraan saya: kok aneh sih, apa ada sekolah kok tidak naik. Saya merasa bodoh menyibak latar-belakang jawaban itu: apakah mereka merasa pandai sehingga pasti naik, atau memang di sekolahnya tidak ada anak nunggak. Sebenarnya pertanyaan saya mengisyaratkan bahwa saya menerima kegagalan mereka, karena menurut saya selisih setahun dua tahun adalah oke. Dalam proses hidup yang sebenarnya, matra waktu berada di belakang paradigma. Pencapaian anak sulung saya yang 'rugi' setahun karena seminari, tidak kalah dari temannya yang tidak rugi.

Tapi entahlah masalah Pak Kepsek itu bila harus menghadapi kegagalan berjamaah, misalnya anak didiknya tidak lulus seratus persen. Dan itu lah yang mungkin dihadapi para pendidik yang mutu pengajarannya di bawah standar. Standar yang mana, Ujian Nasional. Coba baca sebuah artikel di Kompas yang berjudul 'Ketika Pensil Anak-anak Tidak Bergerak..'. Dan bila lagi mereka para pendidik itu mendapat 'ancaman' dari para orangtua, bila anak-anak tidak naik atau lulus. Para pendidik itu tentu tahu betul latar belakang murid-muridnya, orangtuanya. Mereka bertemu setiap hari, tentu mengetahui masalah masing-masing. Sehingga mereka akan tahu apa yang akan terjadi bila muridnya tidak lulus.

Akan halnya orangtua yang risau bila anaknya nunggak, yang pertama tentu masalah biaya untuk mengulang tahun pendidikan yang sama. Saya saja walaupun dapat menerima kegagalan, tetap saja merasa lebih bersyukur ketika anak saya lulus lebih awal dari Usakti karena saya ngirit biaya satu semester. Orangtua juga akan sibuk mengobarkan lagi semangat anaknya yang gagal lulus, dan ini bisa menjadi sangat berat.

Jadi sebaiknya gimana? Saya tetap menyarankan pada paradigma non-shortcut, yang saya maksud adalah ya jangan mengambil jalan pintas/short-cut menjadi paradigma. Ini mungkin berat karena dewasa ini banyak tawaran jalan pintas menuju 'kesuksesan'. Kalau Anda menjawab saya - kalau bisa jalan pintas kenapa tidak -, saya masih berdalih bahwa itu jangan menjadi obsesi, obsesi yang membolehkan apa saja untuk jalan pintas.
Intinya sih saya setuju dengan Dimas Purwoko, mekaten lho Dimas.

A. Bardhono/71