Profil Ketua-Ketua Umum Ikatan Alumni SMA Kolese de Britto

Informasi

Ketua Umum I: FX. Bhima Setya Budhy
1991-1994, meletakkan jabatan di tahun 1993


Nama lengkapnya Fransiskus Xaverius Bhima Setya Budhy, lulus dari de Britto tahun 1977. Aktifis Mading (majalah dinding) dan ‘Free’ di Kandang Manuk dahulu, main folksong, main bola tapi nilai OR-nya jeblok: 5. Mantan anggota Vocalista Sonora, dahulu sering jadi dirigen mars de Britto kalau ada acara reuni di Jakarta. Karena keliling Eropa sebagai Duta Seni sehingga bolos sekolah, dia tidak boleh ikut ujian akhir SMA sehingga kelulusannya tertunda setahun. Cocoklah kalau dia adalah Ketua Umum Ikatan Alumni SMA Kolese de Britto Jabotabek ketika itu, karena dialah yang merintis dan bergerilya mengumpulkan alumni de Britto yang beredar di kawasan Jabotabek.

Pada tahun 1990 sebagai panitia, menyelenggarakan Reuni Akbar di Arena PRJ Monas yang sukses besar. Sarjana UI aktifis kampus ini masih meneruskan gerilyanya menemui pribadi dan kelompok alumni de Britto di Jabotabek, hingga akhirnya Ikatan Alumni SMA Kolese de Britto Jabotabek diresmikan pada tahun 1991, dan Bhima dipilih menjadi Ketua Umum yang pertama dengan masa bhakti 1991-1994.

Pada tahun 1992 diresmikan Yayasan Citra Putra Sejati dan PT. Sembada Putra Sejati yang keduanya milik Ikatan Alumni de Britto, dan Bhima dipercaya memimpin keduanya. Pria beristri satu yang bekerja di Bank Niaga dan berputeri satu ini lalu memimpin 3 lembaga sekaligus, sehingga dia rela meninggalkan pekerjaannya di PT. JITC yang mengelola PRJ. Tahun 1993 dia melepaskan jabatan Ketua Umum dan diserahkan kepada Pak Slamet Rahardjo yang ketika itu menjadi Ketua I.

Seperti biasa terjadi dalam sebuah ‘kumpulan’ selalu ada masa ‘storming’, Bhima melepaskan jabatan direktur PT. Sembada Putera Sejati di tahun 1994. Dia lalu menjalankan bisnis pribadinya hingga sekarang.

 

Ketua Umum II: A. Slamet Rahardjo
1993-1997, 1997-2000

Mas Antonius Slamet Rahardjo, atau yang lebih muda lagi memanggilnya Pak Slamet Rahardjo mewarisi Ketua Umum Iluni de Britto (nickname Ikatan Alumni de Britto ketika itu) dari Bhima sebelum masa bhaktinya habis. Maka Pak Slamet Rahardjo adalah Ketua Umum terlama, karena kemudian dia dipilih lagi dan baru selesai tahun 2000. Lulus de Britto tahun 1960, kuliah di ITB lulus tahun 1967, merintis karier di TNI-AU (d/h AURI) mulai dengan sekolah di Sekolah Kesatuan TNI-AU dan dilanjutkan Sekolah Staf TNI-AU yang diselesaikan tahun 1986.

Pak Slamet memimpin Iluni de Britto dengan cara sangat ‘ngemong’, mungkin karena banyak anggota yang lebih muda. Bisa jadi itu memang karena sifat sosialnya yang tinggi, seperti menjadi pengurus sebuah yayasan pendidikan, menjadi aktifis Paroki Tebet sejak Ketua Lingkungan, anggota Dewan Paroki, Ketua Seksi atau pun prodiakon. Pada tahun 1996 diselenggarakan Reuni Akbar yang menghadirkan guru-guru dan keluarganya dari Yogya, juga diterbitkan sebuah Direktori Alumni. Tahun 1998 dia memimpin rombongan alumni de Britto Jabotabek menghadiri perayaan Pesta Emas Kolese de Britto di Yogyakarta, dengan kereta api.

Pak Slamet Rahardjo, pensiun dari TNI-AU tahun 1995 dengan pangkat Kolonel, mempunyai satu isteri dan empat orang anak. Aktifitasnya sekarang selain berbisnis, juga menjadi dosen di STTJ (Sekolah Tinggi Teknik Jakarta).

 

Ketua Umum III: FX Yuwono Prawirosetoto
2000-2003

Mengaku dan tidak malu lahir di Karangmojo, Gunungkidul. Cedhak watu adoh ratu. Sekolah SR dan SMP masih cedhak watu, setelah SMA baru cedhak ratu yaitu di Kolese de Britto dan lulus tahun 1965. Dia meneruskan tradisi Ketua I menjadi Ketua Umum, seperti Mas Slamet sebelumnya. Sebagai Pegawai Negeri Sipil DepKeu dan menjabat menjadi Sekretaris Badan BPPK, Mas Yu, begitu dia dipanggil oleh teman-teman yang lebih muda, memberi akses Iluni de Britto untuk bisa memakai fasilitas di kampus BPPK Kebayoran Baru. Maka sepanjang tahun 2000 s/d 2006 pertemuan rutin alumni de Britto selalu diselenggarakan di sana dengan alasan sedikit biaya dan letaknya yang relatif di tengah.

Fransiskus Xaverius Yuwono Prawirosetoto ini kelihatannya senang sekolah, selesai di de Britto lalu kuliah di FE UI, kemudian mengambil gelar Master di UIUC, Amerika. Mengikuti pelatihan-pelatihan, lokakarya, seminar, kursus di dalam mau pun di luar negeri. Mungkin dia warga Karangmojo pertama yang mempunyai pasport. Suka menulis juga dan telah menghasilkan artikel-artikel di suratkabar, tulisan-tulisan di jurnal ilmiah baik berbahasa Inggris mau pun bahasa Indonesia, bahkan buku.

Setelah pensiun dari Dep Keu, Mas Yu yang mempunyai empat orang anak dari seorang isteri, berhobi olahraga, baca novel, nonton pameran lukisan, tanaman hias, koleksi buku, tetap aktif menjadi dosen di FE Unika Atma Jaya Jakarta dan STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara).

 

Ketua Umum IV: A. Bardhono
2003-2006


Lengkapnya Antonius Bardhono, asli Ganjuran, Bantul. Sejak kecil selalu sekolah di sekolahan Jesuit, yaitu SR/SD dan SMP Kanisius, dan SMA Kolese de Britto yang dia selesaikan tahun 1971 pas bandrol tidak ada perpanjangan kontrak. Sudah aktif di Iluni de Britto sejak Pak Slamet Rahardjo, membantu menjadi panitia reuni dan pernah menyelenggarakan Misa Pesta Imamat ke-50 Romo Oei Tik Djun, SJ di Jakarta, padahal romonya tinggal di Girisonta. Menjadi Ketua II jaman Pak Slamet, lalu menjadi Ketua I jaman Mas Yuwono, akhirnya disalib menjadi Ketua Umum yang ke IV.

Bekerja di perusahaan komputer besar IBM, instink teknologinya dia bawa ke komunitas alumni de Britto. Dia perkenalkan betapa bergunanya Internet dalam membangun komunitas, kepada anggota-anggota Iluni yang ketika itu didominasi para senior. Sebelumnya dia memang sudah mengelola mailing-list de Britto Net yang anggotanya mencapai ribuan dari seluruh dunia. SMS melalui handphone pun diadopsi menjadi alat komunikasi, terutama untuk pengumuman acara reuni.

Aktifis Paroki Ratu Rosari Jagakarsa ini sering secara bercanda dipanggil oleh teman-teman alumni sebagai Romo Bardhono, walau pun beristri dan mempunyai anak empat orang, 2 laki-laki dan 2 perempuan. Pada masa pemerintahannya, organisasi Ikatan Alumni SMA Kolese de Britto dilegalkan di hadapan notaris dan asesori ‘Jabotabek’ dihilangkan. Jabatan Ketua Umum diganti dengan sebutan Presiden dan wakilnya disebut Sekretaris Jendral. Dan nickname ‘Iluni de Britto’ diganti dengan ‘Alumni JB’, menghindari kerancuan sebutan Iluni dengan Universitas Indonesia. Dia hanya bersedia satu kali menjadi Presiden, karena selain tidak digaji, juga menurutnya kaderisasi harus mengalir tidak boleh berhenti.

 

Presiden: Datuk Sweida Zulalhamsyah
2006-2009


Ini adalah orang Islam pertama yang memimpin Alumni JB, berita keterpilihannya dimuat di majalah Hidup. Keturunan Padang (ada Datuknya) dan keturunan Batak juga (Surbakti, tapi tidak kelihatan), dilahirkan di Yogyakarta. Tidak ada bekasnya keturunan tanah sabrang. Sejak kecil sekolah Katholik (PL) dan lulus de Britto tahun 1973. Kelompok angkatan ini baik di Yogya mau pun di Jakarta sangat kompak dan sering berkumpul.

Uda Datuk, begitu dia sering dipanggil malah ada yang memanggil Mas Uda (salah!), adalah Sekretaris Jendral Ikatan Alumni de Britto periode sebelumnya. Orang NU dan mempunyai bisnis peralatan rumah-sakit ini belum dikarunia anak meski sudah menikah beberapa lama. Naluri ke-orangtua-annya dia salurkan dalam komitmen untuk membesarkan dana beasiswa untuk murid-murid de Britto yang membutuhkan, melalu Komite Beasiswa Alumni de Britto.

Bersama dengan ikatan alumni Kolese Jesuit lainnya, membentuk Asosiasi Alumni Kolese Yesuit Indonesia (AAYI) yang berafiliasi kepada Asosiasi Alumni Yesuit Internasional pada tahun 2007. Asosiasi ini yang semula beranggotakan alumni 3 Kolese, kini berkembang menjadi 12 alumni didikan Yesuit.

Uda, pada saat menjadi Sekjend meresmikan berdirinya Ikatan Alumni SMA Kolese de Britto Chapter Surabaya. Dan ketika menjadi Presiden, meresmikan Chapter Yogyakarta.