
Quantum Healing
(Penyembuhan Quantum)
Terjemahan dari:“Quantum Healing:
Exploring the Frontier Of Mind/Body Medicine”
Deepak Chopra, M.D.
Penerbit Nuansa, Juni 2002
296 halaman
Deepak Chopra, seorang endokrinolog terkemuka dari New England, membawa kita menjelajahi konsep pengobatan terpadu yang merupakan gabungan antara ‘pengobatan barat modern’ dengan Ayurveda -- sebuah ilmu pengetahuan kuno tentang kehidupan yang berasal dari India.
Awalnya adalah pengenalan kasus-kasus penyakit terminal, seperti kanker, yang selalu sangat sulit disembuhkan. Pada umumnya para dokter menyembuhkan penyakit kanker ini dengan pendekatan fisik, misalnya dengan bombardir kemoterapi ataupun pengangkatan sel-sel kanker dari pasien. Sedangkan pada Ayurveda, tingkat relaksasi total dan tinggi merupakan prasyarat bagi penyembuhan setiap bentuk penyakit. Teori ini berdasarkan pada konsep bahwa tubuh manusia tahu bagaimana mempertahankan keseimbangan, kecuali bila tubuh tersebut terserang penyakit. Manusia adalah organisme yang handal, yang kemampuannya telah dihimpun selama berabad-abad.
Pada kasus-kasus terminal tersebut, banyak keberhasilan yang terjadi secara ajaib, dengan tiba-tiba, dan sulit dijelaskan oleh pengetahuan kedokteran modern. Beberapa penelitian tentang kesembuhan spontan penderita kanker yang dilakukan di Amerika dan Jepang menunjukkan bahwa kesembuhan terjadi setelah pasien mengalami perubahan kesadaran yang dramatis. Kesadaran bahwa dia merasakan adanya kekuatan yang menyembuhkan dalam dirinya, tapi tidak terbatas pada tubuhnya – kekuatan tersebut menembus batas-batas tubuhnya dan menjangkau alam di sekelilingnya. Loncatan kesadaran ini merupakan kunci, suatu loncatan quantum menuju tingkat yang lebih tinggi.
Menurut Dr. Chopra, mekanisme fisik hanyalah sebuah tabir, dan dibalik tabir tersebut ada suatu pengetahuan dahsyat yang tidak bisa dilihat atau disentuh, yang sampai sekarang belum sepenuhnya dikuasai oleh manusia. Misalnya satu pertanyaan menarik, apakah sebuah sel saraf menciptakan pemikiran, atau bahwa sebuah pemikiran menciptakan sel-sel saraf? Sebagai contoh misalnya, terbentuknya dendrit-dendrit baru pada orang yang selalu aktif secara mental. Dendrit (dendrites, Yunani = pohon) adalah ujung dari tangan-tangan sel saraf (akson) yang berbentuk seperti pohon dan memancarkan cahaya tipis, dan bertugas sebagai titik kontak agar sel saraf dapat mengirimkan sinyal ke sel lain. Sel-sel baru terbentuk, seperti kantor telkom yang membuka jaringan-jaringan baru ketika manusia aktif berkomunikasi lewat telpon.
Lalu apakah sebuah pemikiran itu? Apakah itu sekedar proses kimiawi yang melibatkan senyawa biokimia dopamin yang disekresi oleh otak? Senyawa kimia dalam tubuh sangat rumit, terdiri dari ribuan jenis, dan seringkali diproduksi hanya dalam tempo sepersekian detik. Apa yang mengontrol aliran ini? Seandainya otak mempunyai fungsi memerintah dan mengatur semua fungsi mental dan membentuk pemikiran dengan mensekresi dopamin, maka otak seperti mesin. Lalu, siapakah sopir yang mengendalikan mesin ini? Tentu sopir ini mempunyai kekuatan yang cerdas yang memotivasi manusia untuk hidup, bergerak, dan berpikir.
Buku ini lalu mendiskusikan pendekatan pengobatan modern yang pada dasarnya “belajar dari orang mati”. Perkembangan ilmu kedokteran modern dihasilkan dari otopsi mayat. Di laboratorium tidak pernah dipelajari jalinan halus kecerdasan yang menyatukan tubuh manusia. Misalnya, sebuah luka yang ditutup oleh sel-sel darah, lalu mereka membentuk zat pembeku, ternyata sel-sel itu tidak bergerak secara acak. Mereka tahu kemana harus pergi, apa yang harus dilakukan setibanya di sana. Kecerdasan mereka melebihi seorang paramedik! Penelitian laboratorium tidak pernah mengungkap kecerdasan seperti ini.
Bab-bab lain dalam buku menceritakan tentang penemuan-penemuan mutakhir dalam bidang kedokteran, seperti senyawa kimia kecil yang disebut neurotransmitter, yang menjadi kurir dalam menyampaikan pesan otak ke seluruh tubuh. Ini menggambarkan bahwa interaksi pikiran – tubuh adalah sangat dinamis, dan tubuh bagaikan aliran sungai yang selalu berubah-ubah setiap saat, tidak pernah statis (seperti patung). Penelitian mendalam terhadap transmiter saraf menemukan bahwa setiap transmiter memiliki struktur molekul berbeda untuk membawa pesan yang berbeda.
Masih banyak lagi hal yang menakjubkan dari tubuh kita ini. Seperti misalnya sel ternyata adalah ingatan yang membentuk zat yang mengelilingi dirinya, dan tubuh hanya sekedar tempat, yang oleh ingatan disebut ‘rumah’. Misalnya lagi, kenyataan bahwa benda padat (termasuk badan manusia) terdiri dari atom, dimana partikel-partikel sub-atom dipisahkan oleh celah yang sangat besar, sehingga 99,999 persen atom merupakan ruang kosong. Jadi, tubuh kita yang terdiri dari atom, sebenarnya merupakan ruang kosong. Bagaimana kekosongan ini yang diisi oleh titik-titik zat yang sangat jauh terpisah, bisa membentuk tubuh manusia? Apakah kesamaan antara jagat raya (universe = makro kosmos) dengan jagat kecil (mikro kosmos) tubuh kita? Ternyata keduanya sama sebangun, bahkan untuk setiap proses yang terjadi di dalamnya, termasuk misalnya lubang hitam (black hole) di angkasa raya yang sama dengan “lupa” dalam tubuh kita, dimana zat dan energi menghilang untuk selamanya.
Ada tiga hal yang disimpulkan, bahwa: pertama, kecerdasan ada dimana-mana di dalam tubuh kita. Kedua, kecerdasan tersebut memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dari obat pengganti apapun yang berasal dari luar tubuh. Ketiga, kecerdasan tersebut lebih penting daripada zat tubuh itu sendiri, karena tanpa kecerdasan itu, tubuh kita menjadi tidak terkendali, tanpa bentuk, dan kacau.
Pada bab-bab akhir buku yang bagus ini, banyak nasehat bijak yang dikemukakan. Misalnya, dalam ‘menyembuhkan’ penyakit, pendekatan pengobatan modern selalu ingin menang perang, dengan membabi buta mengerahkan pasukan dari luar tubuh. Hal ini seringkali tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tubuh, karena pendekatan ini selalu tidak mendukung bahkan tidak memahami kecerdasan dan kearifan tubuh dalam memerangi penyakit.. Seringkali orang meninggal karena penyakit kanker bukan menjadi korban penyakit itu sendiri, tapi korban ‘usaha penyembuhan’.
Filosofi Ayurveda adalah mencoba memahami kecerdasan-kecerdasan yang bekerja dalam tubuh, menyelami ingatan-ingatan yang beredar dalam tubuh – pikiran, mencoba menjaga ‘perdamaian’ antara tubuh pikiran.. Meditasi merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kedamaian dan keselarasan pikiran – tubuh.



