Selamat Paskah

Budaya

Lurs,

Christ

Malam Paskah 2006 yang lalu di kapel paroki kami yang kapasitas hariannya hanya 400 orang, dijejali oleh l.k 1200 umat. Tentu saja tidak semua disesak-sesakkan di dalam kapel, tapi sebagian besar kami tempatkan di bawah tenda luar. Sejak sore hujan rintik2, lalu mulai jam 5-an hujan deras sekali, dan menjelang misa jam 7 hujan reda hingga berhenti sama sekali. Ingatan saya mencatat bahwa perayaan2 Natal, Kamis Putih, Malam Paskah, pernah hujan dan pernah tidak. Tapi setiap upacara Jumat Agung belum pernah hujan, hanya mendung dan pernah hujan setelah upacara selesai. Mungkin saja cuma koinsiden, kebetulan.

Buku panduan liturgi Pekan Suci kami baru. Bagus, tapi perasaan saya kok teknik jilidnya tidak cocok untuk buku umat. Umat yang cara menggunakannya jorok, akan membuat cepet rusak walaupun dipakai hanya setahun sekali. Buku itu dirancang untuk bisa dipakai selama 5 tahun, namun menurut saya kok bisa dipakai selamanya. O iyha, liturgi Pekan Suci itu baku tidak boleh diubah-ubah demi inkulturasi atau inovasi. Apalagi hanya asal tampil beda. Paling yang bisa berbeda hanyalah perkara lagu-lagu, itupun variasinya tak banyak. Lagu janji baptis ya harus Syukur KepadaMu atau Amba Pratiknya nek basa Jawa. Lagu Passio, yang pernah saya dengar sejak belum katulik ya hanya itu-itu saja, padahal saya pernah melihat PML mengeluarkan beberapa versi lagu Passio, bahkan ada yang cengkok Jawa. Saya bermimpi suatu saat menyaksikan Passio oleh keluarga Jagger: Gereh, Jagger dan kakaknya yang jadi bruder. Gereh jadi dalang, bruder jadi Yesus dan Jagger jadi sembarang.

supper

Panitia mencoba banyak melibatkan orang muda, tapi selalu sulit. Bahkan saya juga sulit terhadap anak2 saya :-( Maka orang2 tua harus bertugas sembarang: koor, tatib, pemazmus, lektor dsb. Ada beberapa tugas yang berhasil dilimpahkan kepada orang muda. Passio: komandan memang orangtua, tapi pemeran semua orang muda. Hasil tak terlalu bagus, tapi memberi harapan. Suara maupun cara bernyanyi harus dilatih, termasuk percaya diri harus ditingkatkan. Sayang kesempatan hanya setahun sekali. Saya mempunyai ide untuk mengadakan lomba passio atau litani, tapi tentu tidak perlu utuh, harus dipilih sebagian yang mewakili. Romo Wicak apa Romo Doni apa Romo Titus apa Mas Ray apa Jagger apa Gereh, punya ide? Koor Malam Paskah juga diperankan oleh kelompok mudika wilayah. Koor semalam elok sekali, kapel kami yang kecil terasa bak katedral oleh kehebatan suara koor, terutama oleh lagu penutup Halleluyah-nya Handel. Perfect ten! Belum pernah kami mendapat koor seperti semalam. Empat suara keluar semua, tidak seperti koor2 orang2 tua yang rajin cukla-cukli melayani setiap minggu. Semua umat tentu terbantu merasai suasana liturgi dan menghayati setiap bagiannya. Memang seyogyanya hari2 istimewa dilayani secara istimewa juga. Koor semalam pasti tidak bisa kami dapati hari2 biasa, karena sebagian besar bukan mudika paroki kami.

Perayaan Malam Paskah semalam juga tidak ditergesa-gesai oleh jadwal upacara jemaat gereja yang lain, seperti halnya Malam Natal. Kapel ekumene semalam hanya dipakai oleh jemaat Gereja Katholik, dan hanya sekali karena jumlah umat di kapel relatif tertampung oleh sekali misa. Jemaat GPIB akan mulai jam 5 Minggu pagi, sedang jemaat Pantekosta akan kebaktian Minggu sore. Maka suasana sebelum dan sesudah misa terasa pas untuk membina kejemaatan, persekutuan, communio, koinonia. Kami punya waktu saling mengucapkan Selamat Paskah, saling bertegur sapa, merekatkan persekutuan anggota Gereja. Namun sayang juga, kami tidak bisa bertemu/berpapasan dengan jemaat lain untuk membina persekutuan antar jemaat gereja.

Rangkaian Pekan Suci yang dimulai sejak Minggu Palma tahun ini mestinya meninggalkan kesan bagi kami. Tetapi entah, apa hanya akan berkesan secara lahiriah dengan segala 'ubarampe' liturginya, atau kesan lebih batiniah dengan tema Paskahnya 'Korupsikah aku?'? Mudah2an keduanya.

Selamat Paskah!
AB/71