Peristiwa

Alumnus tertua telah pergi: Ignatius Satjaka Wahjasoedibja

Peristiwa

Pak Satjaka
Lurs,

Satu-satunya alumnus yang kalau datang ke reuni selalu disambut dengan tepuk tangan panjang, adalah Pak Ignatius Satjaka Wahjasoedibja. Itu tentu karena teman-teman alumni melihat dan menyaksikan betapa tinggi rasa setia kawan beliau kepada yang lebih muda. Selama ini memang yang terindikasi sebagai alumnus tertua adalah beliau. Keaktifan beliau sudah lama sekali, jauh sebelum saya sregep di Paguyuban. Kehadiran beliau selalu tampak oleh yang lain. Selain karena memang yang paling sepuh, tetapi beliau selalu membawa oleh-oleh ayam pelung. Ayam pelung yang sudah jadi kluruknya, lalu dilelang dalam acara, uangnya diserahkan ke Paguyuban untuk dijadikan beasiswa. Jangan heran, dahulu juga sudah ada beasiswa dari Alumni, tetapi memang belum well organized seperti sekarang. Oleh teman-teman lalu dijuluki Pak Pelung.

Ruwatan Kadang Manuk - Catatan G. Sukadi

Peristiwa

Ruwatan Kadang Manuk

R U W A T A N (Manuk Pulang Kandang - SMA de Britto, 27 Desember 2010)

oleh G. Sukadi

Romo, Bapak, Ibu, Saudara, para Sahabat dalam kasih Tuhan.

Konon, adalah seorang raseksi bernama Ra Nini atau Bethari Durga, yang madhanyangan di Pasetran Gandamayu atau Gandamayit. Raseksi ini sebenarnya seorang dewi amat cantik yang bernama Dewi Uma. Karena ulahnya bermain serong, dia terkena kutuk dan harus menjalani menjadi raseksi sampai tahun ke-12. Pada waktunya ia akan dibebaskan dari kutukannya oleh Bathara Guru yang manitis dalam diri Raden Shadewa atau Sadewa, saudara bungsu kelima dari Pandawa.

Sampailah saatnya, Bethari Durga dibebaskan dari kutukan yang disandangnya oleh Raden Sadewa. Disertai dengan mantra-mantra gaib, diterbarkanlah beras kuning, air suci, dan bunga-bunga oleh Raden Sadewa ke tubuh Bethari Durga. Maka, terjadilah pembebasan dari kutukan. Kembali Bathari Durga berubah wujud kembali menjadi Dewi Uma yang cantik jelita.

Seminar Sehari Persiapan Pensiun

Peristiwa


Teman-teman Alumni De Britto,
Dalam karier kita pasti suatu waktu datang masanya berhenti, pensiun. Kadang kita bingung mau berbuat apa sesudahnya, meski ada juga yang tidak bingung. Pasti kita memerlukan persiapan, entah lahir maupun batin.
Alumni De Britto Chapter Jakarta akan menyelenggarakan Seminar Sehari tentang Persiapan Pensiun, untuk para calon pensioner alumni De Britto. Atau simpatisannya juga boleh.

Ikut Berduka Cita atas Tewasnya Mas Lambang

Peristiwa

Drs Lambang Babar Purnomo (56), saksi ahli kasus pemalsuan arca di Museum Radya Pustaka Solo ditemukan luka parah dan akhirnya tewas di RS Sardjito Yogyakarta, Sabtu (9/2). Meski keterangan sementara menyebutkan korban yang menjabat sebagai Ketua Kelompok Kerja Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah mengalami kecelakaan, namun polisi juga menaruh kecurigaan adanya unsur pembunuhan terkait posisi korban sebagai saksi ahli tersebut.

Ibu Puji Lestari dan Keluarganya

Peristiwa

A. Bardhono
Di dalam acara pertemuan hari peringatan St. Yohanes De Britto di Jakarta, Minggu 25/02/07 mas Krisbiantoro cerita tentang kedatangan Ibu Puji Lestari dan suami nya Haryanto serta ketiga anaknya. Ibu Puji Lestari mengaku bahwa dia adalah mantan guru SMA Kolese De Britto. Mereka datang kepada mas Kris untuk meminta bantuan finansial dengan bermacam cerita dan ilustrasi yang menyedihkan. Oleh Mas Krisbiantoro mereka dibantu secukupnya. Lalu ada Romo Teguh Budiarto dari Cililitan juga bercerita hal yang sama yang terjadi beberapa minggu sebelumnya. Romo Teguh yang biasa disebut Romo mBantul bahkan membantu permintaan ibu Puji uang untuk kembali ke Jogja. Nyatanya mereka tidak pernah pulang ke Jogja, bahkan melanjutkan bisnisnya memburu bantuan dari para alumni SMA De Britto.

Gempa di Jogja

Peristiwa

Dari Pak Kadi

Lurs...

Terima kasih atas perhatian dan simpati SEMUA teman-teman atas musibah gempa di Yogya-Jateng. Minta maaf sejak Sabtu pagi HP tidak bisa mereply sms yang masuk. Listrik mati. Semua panik.

Sabtu pagi (27/5) saya sudah bangun jam 04.00, masak untuk makan pagi, bersih-bersih ini dan itu, mandi dan 05.40 siap makan pagi. Sekitar 05.50, duduk di meja makan, baru 3 suapan nasi masuk ke mulut, tiba-tiba rumah seperti digoncang, alat makan di buffet langsung tumpah. Saya lari ke luar disusul anak saya, ternyata genting-genting rontok, air tandon untuk masak tumpah terlempar bersama dengan drumnya, botol besar untuk air destilasi terlempar dan pecah meledak, suara barang-barang jatuh dan bangunan roboh sangat mengejutkan. Saya tidak tahu akan berbuat apa selain memegang tangan anak saya di halaman belakang rumah dan berkata pada anak saya, "Gempa,Wuk!". (Seumur-umur baru kali ini mengalami gempa sedahsyat ini)

Feed XML